I Daeng Ngintang, KTP Dan Daftar Online


Ditulis pada Rabu I Juli 2020

Andriani
Editor : Ahmad

Pukul 08.30 aku dan tanteku Daeng Ngintang berangkat dari rumah ke kantor Dinas Kependudukan Catatan Sipil (Dukcapil) Gowa yang beralamatkan di Sungguminasa. Kedatangan kami dengan alasan mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP) Daeng Nassa yang merupakan suami Daeng Ngintang,  yang bermasalah.

“Ani ayomi berangkat, jam berapami ini nanti lambatki, belumpi lagi macet? Panggil Daeng Ngintang yang sedang menungguku diluar rumah.

“Iyye, kitungguma. Lagi siap-siapma ini. Jawabku.
***
Sambil menungguku selesai. Daeng Ngintang berbicara dengan ammakku (ibu) di depan rumah. Aku pun selesai. Karena jarum jam menunjukkan pukul 08.30. Kami pun berangkat.

Diatas motor, kami berbincang-bincang meski aku tetap fokus mengemudi.

“Nganu mentongi itu om nu, ujung-ujungna saya ji na susai." Ketusnya, angin menerpa.

“Ka buraknengtaji (suaminya). Masa tong itu ndak mauki berkorban, hahah." Tak bisa kutahan ketawaku, "romantis romantis saiki itu Daeng Ngintang, disinimi juga diliat kesetianta". Sambil terbahak-bahak.

“Ia kamma todo! siapa memang surui ke Tompobalang (nama desa) urus KTP, na dikampung nya (Pannujuang) itu hari adaji juga pengurusan KTP." Kesalnya.
***

Singkat cerita kami tiba ditempat kantor Dukcapil di Sungguminasa. Aku pun memarkir motorku. Kulirik tempat yang menurutku paling aman, padahal aman ji memang diparkir motor itu hhehhe.

“Dek, jaga baik-baiki motorku na. Motor satu satuku ini yang bersejarah dek." Pintaku kepada anak kecil, yang menjadi juru parkir.

“Iyye kak, kujagaiji itu motorta." Jawabnya.

“Daeng Ngintang, bawa semua jaki itu berkas-berkas yang menurutta diperlukan?" Sambil berjalan meninggalkan juru parkir itu.

“Ada semuaji disini ditasku kusimpan."
***
Hari itu, dikantor Dukcapil dipadati oleh kerumunan orang yang ingin mengurus KTP. Kumantapkan langkahku dengan Daeng Ngintang, melewati satu persatu orang yang sedang berada dilingkungan kantor tersebut. Ada yang duduk diatas motor, diteras mesjid, dibawah pohon, ditempat yang disediakan, dan ada pula yang berdiri lengkap dengan memakai masker.

“Banyakna orang Daengg Ngintang, malu-maluka kurasa kesana." Sambil menunjuk kerumunan itu.

“Apa semuami itu na urus. Kenapa banyak skali orang."

“Kan lagi new normalki Daeng Ngintang, jadi banyakmi dibuka kantor apalagi lulusmi anak kelas 3 SMA ya, sekarang pasti itu urus ki KTP." Jelasku, "Ayokmi dg Ngintang ke sanaki!"
***
Perasaanku bingung. Tak ada satupun terlihat orang yang sibuk keluar kantor mengurus KTP. Semuanya berada diluar. Begitu kami masuk ruangan.

Daeng Ngintang. Kenapa ini ndak ada orang keluar masuk di kantor? nabiar lagi pegawainya banyak diluar. Tanyaku, Daeng Ngintang sedang berdiri disampingku.

“Ndak kutaukmi, pergiko dulu bertanya kepegawainya."

Aku yang masih dilanda rasa malu memberanikan langkahku untuk menemui salah seorang pegawai yang berdiri didepan kantor.

“Pak, tabe. Mauka uruski KTPnya om ku yang bermasalah." Kumenyodorkan KTP yang sedang kupegang.

“Dimanai memang om ta?" Cercaannya, "Kenapa bukan dia langsung kesini. Ndak bisa diwakili itu dek." Tegasnya.

Aku bingung mendengar pernyataan pegawai itu. Aku Panggil Daeng Ngintang yang menunggu berdiri didepan pintu kantor.

“Daeng Ngintang sini saiki . Na tanyaka pegawainya ndak bisa bede diwakili. Sama apa memang masalahta nabilang pegawainya."

“Begini Pak. Ini suamiku bermasalhki KTPnya. Beda alamatki sama kartu keluargaku. Di KTPnya ini beralamat Tompobalang padahal di Kartu keluargaku beralamat Pannujuang."

“Begini Bu, sebenarnya kalau pengurusan KTP itu ndak bisa diwakili. Dan kalau mauki perbaiki KTPnya suamita bisaki liatki ditembok sana. Karna ditembok itu ada selebaran informasi yang diberikan. Sekarang ini pengurusannya KTP dan lain lainnya lewat onlenmi, Bu. Jadi kesana maki catatki nomornya. Nanti kalau kita sudah chatki itu nomornya adaji itu balasannya. Ada nanti link na kasikkanki untuk isi."

Mendengar jawaban pegawainya (saya lupa namanya) kami kemudian pergi ke tembok yang berisi informasi soal kepengurusan KTP dan lain lainnya.

“Bagaimana ini Daeng Ngintang ka lewat onlenmi pengurusannya, jadi siapa nomor dipake untuk chatki ini nomor?."

“Nomormu saja, ka ndak saya wa ku. Hp jingkirik ji kupake (hp yang tidak ada kameranya)"

“Iyye pale, nomorkumi saja." Sambil menjeprek selebaran kecil yang ditempel, "Itumi pentingna Daeng Ngintang hp androidka. Bukanji itu sebenarnya gaya-gayaan hp androidka. Beginimi kalau ada pentingta butuhki hp android."

“Kenapa itu sekarang, sedikit-sedikit pakai onlenki orang kayak tong itu hari waktuta mau urus BPJS. Jadi kalau ndak adami hp androidta susah maki kita, jadi na persulitki"

“Sebenanya dg Ngintang ndak susah maki kalau lewat system onlen karna ndak usahmaki lagi turun di kota uruski. Kan bisajaki dirumah uruski. Belliki hp android de hahhaha"

“Ka anjo doeka timbusu kale-kalei (muncul sendiri)"

“Iyye sede, ayomi pale pulang Daeng Ngintang, nanti dirumah paki daftarki karna adami nomor wa nya disaya."

“Tapi kaumi uruskanga ka ndak kutauki itu saya"

“Iyye sabbara’maki (sabar), gampangji karna adaji langkah langkahna di nanti makirimkanki kalau sudahki chetki bde." Lalu aku suruh, "Oh iye kattemi saja bayaraki parkirang na hahahha" tertawa lagi aku.
***
Sekedar informasi bahwa nomor yang tertera didalam selebaran informasi tersebut disesuaikan dengan Kecamatan dimana kita tinggal.

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ironi Guru Masa Kini