Ironi Guru Masa Kini

               

     Perkenalkan nama saya Andriani, nama yang CUKUP keren bukan? kalian boleh berimajinasi dengan nama saya, kalian bebas memanggil saya dengan panggilan apapun ASAL sopan, bukankah kebebasan harus dibarengi tanggung jawab? kalau tidak ya namanya kebebasan semu. 16 Agustus 2020, tanggal penulisan aspirasi yang saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Terlebih memang saya  bukan seorang aktivis yang turun langsung kejalan dan lebih memilih untuk menyuarakan aspirasi lewat sebuah tulisan. Ini bisa jadi alternative untuk kalian bisa didengar, Panjang Umur Perjuangan. Tulisan ini  utamanya saya hadiahkan untuk Indonesia yang sedang berulang tahun ke 75 tahun - Jayalah Indonesiaku.

     Bayang-bayang euphoria kemerdekaan sudah didepan mata, tapi sayangnya negara kita sedang tidak baik-baik saja - ada covid 19 yang bukan saja merantai negara tercinta tapi juga telah merantai kepenjuru negara didunia. Tapi apapun yang sedang dihadapi oleh bangsa ini, saya mengajak kalian untuk meng-Aamiin kan doa saya dengan keikhlasan penuh “ Semoga covid 19 cepat berlalu dari negara tercinta ini dan agar bisa kembali beraktiftas senormal kemarin? tunggu, normal? Kun Fayakun.

     17 Agustus 1945? semoga kalian tau maksud saya, sebuah momentum yang sacral ketika Bapak Presiden (Soekarno) didampingi Wakil Presiden (Moh Hatta) membacakan teks naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia - Jln Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat. Sekarang mari untuk berimajinasi mengenai jalannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, perhatian!! ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang memiliki CINTA terhadap Indonesia. Lantas timbul pertanyaan, jadi bagaimana dengan koruptor, radikalisme, narkoba, terosisme? silahkan berpikir, karena dengan berpikir menandakan bukti kepedulian terhadap bangsa dan negara ini.

     Hari yang begitu ISTIMEWA, tentu istimewa karena sebuah hari kelahiran, hari dimana telah lahir sebuah bangsa yang bernama Indonesia. Saya juga yakin jika kalian yang masih berkesempatan mendapati hari lahir kalian menganggapnya istimewa? kemudian kalian merayakannya dengan meriah atau merayakannya dengan cukup bersyukur. Terserah, itu hak kalian.

     Setelah ini apa lagi? saya akan mengajak kalian untuk membaca kembali teks yang ada pada naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan semoga tersemogakan setelah membaca  naskah tersebut kita akan mampu menghayati makna kemerdekaan, Aaamiin.

                  P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia.

Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan

dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

               Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05

               Atas nama bangsa Indonesia.

               Soekarno/Hatta


     Setelah membaca teks naskah Proklamasi Kemerdekaan tersebut saya membebaskan kalian untuk mengerti dan memahami sesuai nalar dan terkhususnya saya harap muncul ide-ide positif guna mengisi kemerdekaan Indonesia. Terbebas dari apakah kalian mengikuti saran saya, terpenting adalah kalian telah menyempatkan untuk membaca teks Proklamasi Kemerdekaan tersebut. Saya berharap apa yang saya semogakan tersemogakan. Indonesia sebuah bangsa yang dipersatukan atas adanya persamaan nasib pernah terjajah oleh bangsa-bangsa lain dan semoga Indonesia menjadi bangsa dan negara seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Aamiin Allahumma Aamiin. 

     Keraguan adalah suatu hal yang lazim dirasakan oleh manusia yang timbul ketika harus menentukan sesuatu pilihan. Apakah yang saya tulis  ini adalah sebuah KEBENARAN? karena jika memang sebuah KEBENARAN, maka itu berarti saya mengajak kalian untuk ikut bersedih. Saya yakin tidak akan ada seorang pun yang ingin diajak untuk bersedih, semua pasti menginginkan kebahagiaan?  saya akui bahwa saya bukan seorang penulis handal yang mampu merangkai kata demi kata sehingga terdengar dengan indah, terpenting bagi saya kalian bisa memahami dan mengerti tulisan ini. Saya teringat seseorang pernah berkata dengan dialek Makassarnya “ Kalau perhari kita mampu menulis 3-5 paragraf, Insha Allah bisaki jadi penulis handal, tapi janganki juga lupa banyak membaca “ dan ternyata apa yang dikatakannya cukup membantu. Sebagai manusia berakal tulisan ini dibuat dengan penuh kesadaran dan untuk informan yang terdiri dari anak SMA dan beberapa teman mahasiswa yang berhasil saya wawancara meski secara daring dan dengan secara gamblang saya mengucapkan terimasih untuk kalian yang telah bersedia menjadi narasumber dalam tulisan ini, terimakasih.

      Untunglah hari ini masih ada kebebasan untuk berkarya tanpa takut karya  dibredel atau bahkan bahkan penulisnya dipenjara. Toh, ini sebuah keuntungan tentunya, jadi mari menulis karena menulis adalah bagian dari pertanggung jawaban terhadap bangsa dan negara ini.

-

      Guru adalah Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.  Istilah ini jelas sudah akrab ditelinga masyarakat Indonesia. Berdasarkan sumber dalam kompasiana.com Guru disebut pahlawan tanpa tanda jasa, kira-kira sejak zaman penjajahan Belanda, karena para guru mau mengajar, bahkan sampai ke pedalaman tanpa mengutamakan uang, melainkan demi memajukan pendidikan bangsa dan mencerdaskan anak-anak bangsa. Dari penjelasan tersebut mari sama-sama untuk menelaah kembali apakah penjelasan tersebut masih sesuai dengan realita sekarang atau malah sebaliknya?

     Dalam Undang-Undang Guru (pasal 1 ayat 1) dinyatakan bahwa: Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Satu dari berbagai tugas guru ini yang akan saya coba untuk uraikan yakni mengenai peran guru sebagai figur pendidik. 

     Guru SEHARUS/SEMESTINYA memang menjadi teladan bagi siswanya dan sebagai seorang pendidik guru harus mampu membentuk karakter siswanya menjadi lebih baik agar bisa berguna bagi diri, bangsa dan negara. Karakter seorang siswa bukan saja terbentuk dalam lingkungan keluarga tapi juga terbentuk melalui lingkungan sekolah. Pertanyaannya, apakah dalam dunia pendidikan tugas guru sebagai pembentuk karakter telah tercapai? dan apakah guru sebagai figur pendidik juga telah tercapai?  saya sendiri tidak bisa terlalu menyimpulkan dengan bulat jawaban atas pertanyaan yang telah lama tertanam dalam diri saya. Saya teringat kata salah seorang teman yang saya wawancarai “ kita tidak bisa pukul rata semua guru karena tidak semua sama, kadang cara mengajar mereka didalam kelas sudah bagus tapi yang membedakan adalah kualitas ”.  Ini adalah sebuah pertanyaan yang hanya akan terjawab jika benar-benar kita melihat dari SECARA DEKAT bagaimana potret pendidikan saat ini. 

     Dalam wawancara bersama beberapa informan yang saya yakini keabsahan penuturannya, saya berkesimpulan bahwa saat ini guru sebagai pembentuk karakter dan figur pendidik telah tercoreng. Kalian yang membaca tulisan saya bisa saja memiliki pendapat yang berbeda. Ini sesuatu yang tidak bisa diingkari tapi inilah kesimpulan saya dan tolong hargai. Apa yang saya tulis ini adalah sebuah jawaban yang saya gabungkan atas pertanyaan yang telah lama saya nanti jawabannya.  Izinkan saya menyampaikan sebuah keprihatinan ini dan semoga kalian juga ikut prihatin.  

     Sekolah adalah salah satu ruang untuk menimba ilmu pengetahuan. Tentu, orang-orang yang berperan sebagai tenaga pengajar didalamnya bukanlah orang sembarangan. Ibarat sebuah pernikahan sebelum ada kata SAH, perlu untuk melewati serangkaian proses terlebih dahulu. Begitupula ketika menjadi seorang guru, perlu melewati sebuah proses dari kuliah bertahun-tahun agar menjadi orang berkompeten dalam bidang masing-masing. Dalam dunia perkuliahan inilah kita akan banyak belajar untuk bagaimana menjadi guru professional terkhususnya untuk kalian yang mengambil jurusan pendidikan. Seharusnya apa yang diperoleh dalam perkuliahan, inilah yang perlu di implmentasikan ketika nantinya menjadi pengajar, bukan acuh tak acuh yang berbuntut pada ketidakpedulian. Tapi apa jadinya jika guru yang kita sebut sebagai figur pendidik malah tidak mencerminkan sebagai pendidik? 

     Figur seorang guru tidak sepatutnya memperdagangkan nilai untuk ditukar dengan rupiah, bukan pula membarternya dengan makanan atau benda-benda lainnya? ataukah figur guru yang diskriminatif? ini tidak dibenarkan sama sekali dalam dunia pendidikan dan sekali lagi saya katakan dunia pendidikan saat ini telah tercoreng. Tapi inilah realita sekarang yang sedang dihadapi. Saya bahkan bisa PASTIKAN, kalian juga pernah mendapat salah satu perlakuan tersebut atau bahkan dua-duanya!! Sekarang saya akan mengajak kalian untuk bersama-sama melihat sebuah  KEBENARAN yang saya harapkan KEBENARAN ini adalah sesuatu yang keliru.

a.                  Nilai tidak  diperdagangkan untuk ditukar dengan uang

     Perdagangan barang-barang/ makanan lazim telah didengar, sakin lazimnya tidak ada masalah dengan kegiatan tersebut selama tidak membelot. Tapi bagaimana jadinya jika yang diperdagangkan adalah sebuah nilai? sebuah hasil produk yang seharusnya bisa di dapat melalui sebuah proses dan bukan secara cuma-cuma. Anehnya pedagang nilai ini adalah figur guru!!

     Saya TEKANKAN bahwa nilai tidaklah diperdagangkan untuk kemudian ditukar dengan rupiah, lagi-lagi dengan penuh KEYAKINAN saya meyakini kalian juga tidak setuju dengan tindakan tersebut. 

      Ibu/Bapak guru yang saya hormati dan cintai, tolonglah siswa mu ini cuma ingin belajar dengan baik, tenang dan mengalir sebagaimana mestinya. Kami menginginkan  sebuah proses yang memiliki hasil guna memperoleh nilai dengan sebuah kejujuran. Tolonglah biarkan kami bersaing secara sehat tanpa diracuni dengan kebohongan dengan cara tidak memperdagangkan nilai. Jangan coba merayu karena tidak semua dari kami bisa bertahan atas rayuan tersebut. Jangan dengan kalian mengatakan “ nak beli dagangan ibu/bapak, nanti nilai kamu aman ” atau seperti ini “ yang menyediakan kopi hari ini akan saya beri nilai tinggi ”. Ironis bukan? sungguh patut kita bersedih dengan keadaan yang sedang melanda pendidikan saat ini. Saya tidak menyangkal bahwa ada siswa yang memang menyukai system yang kalian berlakukan tapi selebihnya? 

     Salah satu informan bahkan mengatakan diwajibkan untuk siswa membeli alat-alat kelengkapan kelas!! inilah sebuah bentuk pemerasan yang kalian lakukan dengan kekuasaan yang kalian miliki. 

              b. Figur guru yang diskriminatif

      Dalam lingkungan sekolah guru berperan sebagai orang tua yang bertugas memberi kasih sayang dan perlindungan untuk siswanya tanpa membedakan antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Persamaan ini yang sepatutnya dilanggengkan untuk dibina bukan malah menciptakan perbedaan yang berakibat pada buruknya hubungan antara guru dengan siswa. 

     Perbedaan status diantara siswa bukan untuk dijadikan alasan pembeda, penting seorang guru untuk merangkul semua siswanya. Jangan hanya karena siswa tersebut berstatus anak pejabat, anak guru, anak polisi dll, lantas kalian bedakan.  Lantas bagaimana dengan siswa yang statusnya sebagai anak petani, kuli bangunan? kami juga punya perasaan. Dalam lingkungan sekolah kami ingin disamakan dan tidak ingin dibedakan, jadi stop lah untuk diskriminatif dan lagian tidak akan ada untungnya malah dibelakang kalian akan mangalir hujatan yang tiada hentinya.

  •      Mungkin dari dua hal inilah yang sering menjadi langganan permasalahan dalam lingkungan sekolah dan sebagai calon guru saya berharap nantinya tidak akan terjerumus kedalam hal-hal yang membuat  figur guru tercoreng dalam dunia pendidikan, Aamiin Allahumma Aamiin. Dan untuk teman-teman, saya menaruh harapan yang sama, semoga kesalahan ini tidak akan terulang lagi. Jadilah figur pendidik yang benar-benar mendidik. Semoga didalam diri kita masih ada visi dan misi untuk menjadikan bangsa dan negara kita sesuai yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. 

Catatan : Saya masih berkeyakinan bahwa tidak semua guru melakukan kesalahan tersebut meski sebagian kecil ada yang melakukannya dan semoga generasi bangsa kedepan tidak akan tergoda mengulangnya. Belajarlah dari sejarah untuk tidak mengulang kesalahan yang sama, tapi memperbaikinya.

DIRGAHAYU INDONESIAKU YANG KE 75 TAHUN. LEKASLAH PULIH DARI KEBOBROKAN SISTEM YANG SELAMA INI DILANGGENGKAN. SEHAT KEMBALI DAN SEMOGA COVID 19 YANG SEDANG BANYAK MELANDA NEGARA-NEGARA DIPENJURU DUNIA DAPAT SEGERA HILANG. AAMIIN ALLAHUMMA AAMIIN

 

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

I Daeng Ngintang, KTP Dan Daftar Online