Berguna Untuk Diri Sendiri Dan Orang Lain
Sesuatu yang kamu alami akan lebih berarti jika kamu berbagi kisah dengan teman mu.
Selagi kalian berada dilingkungan yang tepat kalian seharusnya hidup bahagia setidaknya bisa makan 3 kali sehari.
-
-
Hari-hari kalian akan menyenangkan jika kalian melaluinya dengan keikhlasan bekerja. Kiranya begitu bersahaja ditelinga orang yang tepat. Bagaimana mungkin bingkai senyum itu sumringah ditengah panasnya aspal Sultan Alauddin? Tapi langit tidak bisa ditawar.
Mencintai diri sendiri dengan berhati-hati mengendarai sepeda motor kalian. Berhenti ketika lampu merah dan melaju ketika lampu hijau. Berlindung dari tebalnya jaket, sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan terendah menunjukkan kekalahannya. Berhenti pada sebuah gerobak yang menawarkan sebuah kenikmatan yang tidak tertolak, es cendol yang murah meriah.
Selain cendol, satu hal yang tak kalah menarik, dua gadis kecil menenteng karung berisi bekas gelas yang akan disulapnya menjadi rupiah. Keduanya bernama Lisma (anak kelas 6 SD ), dan Risna (anak kelas 4 SD) .
Ibu penjual menyodorkan sebuah gelas yang berisi kenikmatan itu.
Saya : Adek, mauki juga cendol ?
Tanyaku melempar senyum dibalas wajah tersipu malu..
Lisma : Kalau kita belikanka kk mauja.
Berhasil menjadi berguna adalah harapanku selama manjadi manusia.
Saya : Ibu, kita kasi cukup dua cendolnya.
Percaya sesuatu yang diberi secara ikhlas membuat kita merasa menjadi baik? Mujur, satu gelas berisi kenikmatan tidak berbayar. Percaya saja suasana baik akan tercipta jika kalian memulainya setidaknya kalian merencanakannya.
Menenteng 3 gelas berisi kenikmatan kesebuah tempat dimana kalian bisa beristirahat meski harus risih diamati oleh sepasang bola mata yang berlalu (Taman kampus Unismuh). Bermodalkan 2 gelas cendol kalian bisa mendapat informasi tentang mereka. Sambil mnyeruput cendol, percakapan berlangsung.
“Tak kenal maka tak sayang”, kiranya begitu kata kuncinya..
Saya : Siapa namata dek ?
Kalimat ampuh pelicin obrolan ini.
Lisma : Lisma kk.
Risna : Risna kk.
Untuk jawaban atas pertanyaan ini kalian tidak perlu membuang waktu. Hanya butuh beberapa detik saja untuk pertanyaan kelas pengenalan. Sumringah senyum lantas terlontar meski tersipu malu. Barangkali karena mereka masih kecil.
Orang dewasa yang selalu ingin tahu, seperti ketika saya yang mengerjakan tugas tanpa handpone disampingku.
Saya : Dek, bisaka bertanya? Kk ndk akan apa-apai jaki dek!
Sedikit penegasan untuk sebuah pemantapan. Kedua bola mata itu mengisyaratkan jawaban “Iyye”.
Saya : Asli manaki dek ?
Pertanyaan asing di setiap perkenalan.
Lisma : Jeneponto kk, Risna juga kk.
Saya : Ndk sekolahki dek?
Risna : Sekolah online kk.
Trend sekolah sekarang.
Rasanya seperti menggendong bayi untuk pertama kalinya. Kalian harus berhati-hati atau kalian akan menyakitinya.
Aku : Kenapaki bisa kerja serabutan begini dan siapa yang suruhki ? Wajahnya mantap menjawab.
Risna : Saya mulung kk karna mauka membantu orangtua dan tidak ada yang suruhka.
Jawaban aneh untuk seusianya. Tidak percaya pikirku lantas mengulangi pertanyaan itu, jawabannya...
Lisma : Samaji kayak Risna kk, karna mauka bantu orangtua dan tidak ada yang suruhka.
Apakah kalian berpikir sama dengan saya ketika kalian diposisi itu?
Risna : Saya ndk maluja mulung kk, daripada pergika minta-minta.
Saya yakin jika kalian diposisi ini, denyut jantung kalian tidak akan senormal biasanya. Sembari memberi kesempatan mereka berbicara.
Lisma : Kusukaji saya mulung kk dan tidak pernahja mengeluh.
Saya : Tapi kalian taukji kalau kalian ini ndk seperti anak-anak lainnya yang bebas bermain dirumah, dan tidak boleh keluar dijalan untuk kerja ?
Sesaat kedua bola mata itu bertemu dan menjelaskan.
Risna :
Biarmi ndk samaka kayak yang lainnya kk, karna
kusukaji juga ini kerjaku.
Saya : Berapa kaliki kerja dalam sehari dek ?
Pikiran kalian akan berputar pada angka satu, tapi jika kalian berpikir demikian, maka kalian salah.
Lisma : Dua kali kk dan itu dari jam 10 pagi sampai sore dan sudahnya magrib lanjutka lagi sampainya jam 10 malam.
Mungkin saja seusia mereka meninggalkan rumahnya untuk berlibur dirumah neneknya? Tapi tidak untuk mereka yang dijalan.
Saya : Kalau urusan makanta berapa kali sehari dek ?
Kalian butuh tenaga untuk bekerja hampir seharian dijalan. Ini tidak berlaku untuk mereka.
Lisma : Biasa satu kali kk dan paling banyak dua kali.
Katanya sambil tersenyum. Jika ini terjadi pada kita, mungkin tissue dirumah kalian akan habis dan saya atau kalian akan membentak orang rumah atau jauhnya kita menyalahkan takdir.
Karena tidak ingin berlama-lama menganggu keduanya, percakapan ini saya akhiri.
Tetaplah jadi pribadi terbaik, menjadi baik walau lelah dan belajar berdamai dengan kehidupan. Jangan marah, badan bisa saja lelah, kamu bebas menangis tapi ingat jangan menyerah dan percaya waktu.
Pertemuan itu singkat, tapi saya bisa belajar bagaimana mensyukuri hidup dengan tidak sesingkat itu. Ulurkan tangan kalian karena mereka butuh kita.
Barangkali kita bisa menjadi berguna.

Eaaaa
BalasHapusTarek sist.
BalasHapus